welcome to my Blog

welcome to my Blog
Nana Owobiw

Senin, 06 Mei 2013

Aenda, Lui

Aenda, Lui

Aenda Rera, namun sejak kecil papa terbiasa memanggilku dengan Alen. Aku tinggal disebuah komplek perumahan villa dengan halaman luas yang dipenuhi dengan bunga lilin, entah mengapa aku bisa menyebutnya bunga lilin. Mungkin pada saat itu aku masih kecil dan tak tau apa nama bunga bercahaya itu. Yang pasti pertama kali aku menemukan bunga itu di tepi danau yang berjarak dekat dengan komplek perumahan tempat tinggalku, bunga itu kecil dan tak begitu panjang dengan kelopak berwarna kuning cerah, sehingga pada waktu malam hari bila didekati, bunga itu seperti lilin yang bercahaya redup. Sejak saat itu aku paling rajin menyempatkan waktu sore hariku untuk mengambil bunga lilin yang masih muda untuk ku pindahkan di halaman depan rumahku untuk kemudian papa yang selalu menanamnya untukku.
Komplek perumahanku yang terletak dipinggiran kota, membuat suasana rumahku sedikit jauh dari hiruk pikuk dan keramaian kota. Sunyi, damai, dan hanya berdua dengan papa, membuat rumahku terlihat paling sepi diantara tetangga-tetanggaku. Apalagi pada waktu malam hari, namun aku telah terbiasa dengan keadaan seperti ini yang sehingga membuatku jatuh cinta dengan kesunyian.
Anehnya sejak kecil aku tak tau siapa mamaku, papa tak pernah cerita mama ada dimana, bahkan papa tak pernah memberitahuku siapa nama mamaku, atau sekedar memberitahu bagaimana wajah dari seorang mamaku. Setiap aku tanya soal mama, papa selalu mengalihkan semua pertanyaanku dan slalu menjawab dengan kata-kata yang sama “papa bisa menjadi papa sekaligus mama buat kamu”. Dan kalau papa sudah bicara seperti itu, aku tak berani untuk mengatakan apa-apa lagi. Bagiku mama hanyalah sekedar bayangan yang tak pernah ada dalam kehidupan nyataku. Papa benar, kenapa aku harus bertanya soal mama yang tak pernah ada, sedangkan papa yang telah membesarkanku selama 18 tahun ini adalah segalanya buatku, dan yang slalu ada menjagaku. Meskipun demikian, aku berharap aku tak berbeda lagi dengan yang lain. Tidak mungkin aku terlahir didunia tanpa adanya seorang ibu yang melahirkanku. Mungkin papa punya alasan tersendiri mengapa papa slalu merahasiakan soal mama kepadaku.
Bukan karena tidak adanya seorang mama yang membuat hidup ini terasa sepi, bukan karena aku hanya tinggal berdua dengan papa dirumah yang lumayan besar ini, ataupun suasana rumahku yang hangat dengan kedamaian yang membuat aku jatuh cinta dan tetap bahagia pada sebuah kesunyian yang justru biasanya dibenci dengan kebanyakan orang. Namun karena keadaan yang menjadikan aku seseorang yang tak mampu mendengar apapun bahkan indahnya nyanyian papa sebelum aku tidur sejak aku masih kecil. Namun karena waktu yang membiasakan semua itu, dan keadaan yang slalu menerima perbedaan yang ada padaku selama 18 tahun ini, bisa menjadikan aku sama seperti yang lainnya. Bisa bertahan pada kehidupan, meskipun tak sesempurna yang setiap orang inginkan dan meskipun hanya tergantung pada sebuah alat yang bernama Hearing Aid pemberian papa pada waktu aku masih duduk di kelas 4 SD yang harus aku pakai setiap hari. Iya, aku adalah seorang tuna rungu. Aku mengalami gangguan pendengaran semenjak kecelakaan yang menimpaku dengan papa 15 tahun yang lalu, tepatnya saat aku duduk dikelas 3 SD. Tetapi pada waktu masih kecil papa segera memeriksakan keadaanku, sehingga tak begitu parah sampai mempersulit bicaraku. Begitulah cerita papa. Meskipun begitu, tak sedikit hari yang aku lalui dengan cemooh dan ejekan teman-teman sebayaku. Terkadang aku heran dengan sikap mereka, apa alasan mereka dengan harus bersikap seperti itu. Bukankah tuli yang aku alami tak mengusik sedikitpun ketenangan hidup mereka. Entahlah, mungkin benar apa yang dibilang papa, mereka seperti itu hanya karna iri terhadapku karna aku selalu jadi juara dikelas. Itu yang slalu dibilang papa saat perasaan lelah dan putus asa menghampiriku pikiranku. Namun semua itu tak pernah menyurutkanku untuk berhenti pada sebuah kehidupan. Dan aku harus bisa melewatinya sesempurna mungkin serta berusaha menggantinya dengan setegar mungkin. Walaupun aku sadar, aku bukan gadis kecil papa lagi yang setiap hari harus mengeluh dan menangis dihadapan papa hanya karna aku dikatain si tuli oleh temanku, atau berteriak di jendela hanya karena ada penjual Es lewat di depan rumah. Tapi kali ini aku harus berjalan sendiri, seperti yang papa bilang dan tak boleh mengecewakannya.
***
Hari ini sedikit berbeda, kepulanganku kemarin sore membuatku benar-benar tertidur nyenyak malam harinya. Sampai-sampai aku baru terbangun setelah sinar matahari menerobos jendela kamarku, yang tentunya memaksaku untuk segera membuka mata yang masih ingin larut dalam mimpi indah tadi malam. Namun seperti hari-hari sebelumnya, hari ini pun tak ada yang istimewa selain keistimewaan pelukan rindu papa kemarin sore yang menyambut kepulanganku.
Kembali ke rutinitas sehari-hari setelah weekend sudah berlalu tadi malam.
“ Alen, sudah bangun nak ?” Terdengar teriakan papa dari pintu yang membuyarkan lamunan sesaatku saat itu.
Sambil setengah mataku tertutup aku melihat papa berdiri di depan pintu. Dengan menggunakan bahasa isyarat yang biasa kami gunakan, dan aku tahu apa yang sedang papa katakan. Segera aku menjawabnya.
“ Sudah papa !” Jawabku dalam keadaan masih setengah mengantuk, seolah aku paham dengan apa yang ditanyakan papa padaku.
Papa membuka tirai kamarku, dan seketika embun pagi menerobos hangatnya sinar matahari melalui jendela kamarku dan membuat suasana segar terasa di dalam ruangan ini.
“ Ayo, Alen sarapan dulu !” Ajak papa sambil menyodorkan Hearing Aid, untuk segera aku pakai.
“ Iya papa, maaf ya !” Jawabku sambil beranjak berdiri memeluknya.
“ Maaf kenapa sayang ?” Tanya papa yang terlihat sedikit bingung.
“ Maaf karena Alen bangun kesiangan, hehe !” Jawabku sambil terkikik geli melihat papa yang mulai sebel dengan pernyataanku.
“ Alen.. Alen.. “ senyum papa yang seketika itu terlontar sambil mengelus rambutku.
Aku sayang sekali dengan papa, setahun tinggal dengan tante di Paris jelas berbeda saat dengan tinggal bersama papa di rumah. Namun pagi ini pelukan papa bisa aku rasakan lagi setelah 1 tahun kemarin aku pergi meninggalkannya.
Aku berlari menuju ruang makan meninggalkan papa yang masih berada di kamarku. Sambil melihat kanan kiri di sekeliling meja makan. Kenapa hari ini tidak ada susu sapi dan nasi goreng buatan papa yang tersedia di atas meja makan seperti dulu sebelum aku meninggalkan papa ke Paris. Tanyaku dalam hati. Seketika mataku tertuju pada tudung saji yang berada diatas meja makan, berharap ada susu sapi dan nasi goreng telah tersaji didalamnya. Aku segera membukanya, namun setelah aku membukanya bukan lagi rasa lapar dan haus tapi persaan haru yang seketika muncul. Kue ulang tahun coklat dengan dipenuhi strawberry disekelilingnya, dan berdiri angka 19 ditengahnya. Oh my God, bahkan aku sendiri lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunku.
“ Happy birthday, Alen.. “ Terdengar suara papa yang berdiri di depan pintu kamarku yang ternyata dari tadi sedang mengawasiku tengah tertegun di ruang makan.
“ Papa..” ucapku pelan sambil berjalan menghampirinya dan segera memeluknya.
“ Sama-sama sayang.. “ Sambil meledekku karna aku belum mengucapkan terima kasih.
“ Iya papa, terima kasih, Alen sayang sama papa !” Senyumku sambil disusul dengan tetesan air mata yang tak bisa aku tahan detik itu karna terbawa suasana haru.
Di pelukan papa aku hanya bisa berjanji akan slalu jadi yang terbaik untuk papa dan dalam hati meminta maaf karna telah meninggalkannya selama setahun ini hanya karna aku ingin menikmati liburanku di Paris. Lalu papa menggandengku ke meja makan kembali.
“ Ayo, sekarang tiup lilinnya dan tuangkan harapan kamu sambil berdoa !” perintah papa dan segera aku lakukan saat itu juga.
Dalam hatiku, aku hanya ingin papa selalu ada disampingku karna hanya papa lah yang selalu memberitahuku bahwa selalu ada bahagia dalam kehidupan seseorang dan akan selalu ada orang yang dikirim untuk selalu membuat kita bahagia.
“ Sudah, anak papa yang paling cantik !” Goda papa sambil tersenyum, memastikan aku selesai mengucapkan make a wish.
Selanjutnya aku hanya tersenyum melirik ke arah papa.
“ Kali ini Alen yang akan masak nasi goreng untuk sarapan kita hari ini !” Sambil mengusap air mata yang dari tadi menetes, aku segera menuju dapur.
Dan papa hanya tersenyum, melihatku yang begitu semangat untuk memasak pagi itu.

***
            Waktu menunjukkan pukul 9 pagi, dan saatnya memulai rutinitas dikampus tercintaku.
“Aenda berangkat dulu paa..!” Teriakku sambil menutup pintu kamar dan menghampiri papa yang saat itu tengah membaca koran di ruang makan.
“Iya, hati-hati Aend..!” Kata papa sambil mengelus rambutku saat aku mencium tangannya.
Lalu aku bergegas berangkat karna waktu telah menunjukkan pukul  8 pagi, aku berjalan melewati kompleks perumahan yang masih sepi dengan aktivitas. Hanya ada tukang penjual sayur keliling yang tengah menjajakan dagangannya. Setelah sampai diujung jalan, aku segera merapat ke halte dan menunggu taxi di tempat duduk halte. Berharap untuk cepat mendapatkan taxi untuk segera aku tumpangi. Selang 10 menit kemudian, Taxi pun lewat dan mengantarkanku melesat ke arah ibu kota. Sesampainya di depan kampus aku segera berjalan menyusuri lorong-lorong kelas yang mulai ramai dengan mahasiswa.
Tiba ruang 5.12 dengan dosen terkilernya pengantar psikologi. Aku segera memasuki ruang kelas yang saat itu penuh riuh dan segera menghampiri Anne, sahabat baikku. Aku duduk disebelahnya dan mulai mendiskusikan tugas observasi yang diberikan oleh Bu Juar kepada kami.
“Silahkan membentuk kelompoknya masing-masing dan mengambil form ke saya untuk segera melakukan observasi!” Seru ketua tingkat kami memberi intruksi.
Aku, Anne, dan teman satu lagi segera mengisi form dan beranjak meninggalkan kelas untuk mengunjungi perkampungan kumuh dipinngiran ibu kota sebagai tujuan observasi kami.
***
            Mobil yang dikendarai Anne pun mulai melesat jauh meninggalkan parkiran kampus. Menyisiri ibu kota yang sudah nampak macet untuk jam aktivitas seperi sekarang. Selang beberapa kemudian, kami pun sampai di perkampungan kumuh itu. Benar saja, dibalik gedung-gedung pencakar langit yang mewah ditengah ibu kota, ternyata dibaliknya miris dengan keadaan yang berbanding terbalik dengan mewahnya kota Jakarta yang serba ada. Sempit, dan benar-benar kumuh. Sama sekali tidak terbayangka bagaimana nasib kesehatan mereka, pendidikan, maupun ekonomi yang berada disana. Aku masih tertegun mengamati sekeliling perkampungan kumuh itu dibalik kaca mobil Anne.
“Aend ayo keluar!” Teriak Anne mengajakku keluar.
Kami bertiga pun segera berjalan memasuki jalan sempit perkampungan kumuh itu. Karna mobil Anne tidak bisa memasuki jalan yang ada di perkampungan itu, jadi terpaksa harus diparkir depan warung diujung jalan.
Belum melangkah lebih jauh, aku sudah mendapati pandangan yang cukup membuat hati terasa pilu. Umumnya jam-jam seperti ini adalah waktu anak untuk mendengarkan pelajaran di kelas, membawa tas dn bersepatu rapi dengan baju seragamnya. Bukannya membawa karung dengan tumpukan sampah, bahkan tanpa alas kaki.
Segera aku menghampiri anak tersebut dengan seribu pertanyaan yang mulai muncul dibenakku.
“Adek,, !” Sapaku pelan sambil menghampirinya.
Tatapan dingin dan asing mulai keluar dari raut wajahnya yang masih polos.
 “Kamu gak sekolah?” Tanyaku lagi sambil tersenyum menatapnya.
Dia hanya diam dan menatap mimik mulutku yang berbicara. “Iya sekolah, ini kan jamnya anak sekolah! Tambahku lagi.
Aku hanya menoleh ke arah Anne dan satu temanku yang lain hanya tertegun diam berdiri dibelakangku.
Tak lama setelah itu anak tersebut berbalik arah dan berlari kecil. Aku bingung dengan sikapnya, apa pertanyaanku membuatnya sakit hati. Karna merasa tidak enak hati, aku pun segera berlari menyusulnya, Anne dan satu temanku yang lain pun menyusulku di belakang. Tak begitu lama, sampai lah aku membuntuti anak itu. Gadis kecil itu berhenti disebuah rumah kardus yang dihalamnnya penuh dengan botol-botol plastik sisa air mineral. Aku pun memberanikan diri untk memasuki rumah itu, tak bermaksud lancang karna rumah itu hanya terdiri dari satu pintu dan itupun terbuka karna tidak ada daun pintunya.
“Permisi..!” Teriakku dengan pelan.
Betapa kagetnya mata ini melihat, dalam bayanganku didalam rumah kardus itu ada berpetak-petak ruangan. Namun salah besar, begitu aku, Anne dan satu temanku yang lain akan memasuki rumah tersebut langkah kami terhenti seketika. Bagaimana tidak, ternyata rumah gadis kecil itu hanya terdiri dari satu petak ruangan yang sangat sempit, tidak ada jendela, dan udara hanya masuk lewat pintu kecil yang terbuka itu. Pengap sekali, sedangkan didalam terlihat ada seorang ibu dan dua anak kecil yang salah satunya adalah gadis kecil tadi.
“Maaf bu..saya..”
“Tidak apa-apa silahkan masuk!” Ibu itu memotong bicaraku dan dengan ramah mempersilahkan kami bertiga masuk ke dalam.
“Kalian ini siapa, dan ada perlu apa datang kesini?” Tanya ibu itu dengan suara lirih.
“Sebelumnya maaf bu, saya tadi bertemu dengan anak ibu dan saya tanya soal!” Bicaraku terhenti seketika.
“Iya, Lui sudah cerita kepada saya!” Sahut ibu itu sembari masih tersenyum ramah dan ternyata anak gadis kecil itu bernama Lui.
Ibu itu banyak bercerita kepada kami saat itu, dan kami pun memberitahu bahwa kedatangan kami bertiga di kampung itu hanya untuk observasi dan tidak bermaksud merugikan siapapun. Ibu itu pun mengerti dan bercerita tentang hidupnya dan keluarganyam termasuk Lui anaknya. Ibu tersebut mengatakan, bahwa dulu ia adalah orang yang berkecukupan, dan Lui pun sebenarnya pernah merasakan bangku pendidikan di sekolah dasar hingga kelas 5 SD. Namun keadaan berubah setelah mereka sekeluarga mengalami musibah kecelakaan, yang membuat suaminya meninggal dunia dan Lui yang mendadak menjadi tuli. Pantas saja saat berbicara denganku, dia hanya diam dan melihat kearah mimik bibirku.
Cerita dan musibah yang dialami Lui sama seperti apa yang aku alami dengan papa. Hanya saja Lui saat ini ada bersama ibunya dan ditemani dengan adiknya yang masih sekitar berumur 3 tahun. Sejak saat itulah hutang di keluarga mereka menumpuk sehingga semua rmah dan hata bendanya habis dan disita bank, dan harus terpaksa tinggal dalam keadaan yang sangat berbanding terbalik dengan keadaanya dahulu. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan Lui, sangat tertekan untuk anak seusia Lui. Aku pun mencoba berbicara dengan Lui dengan bahasa iayarat yang ia mengerti. “Bahwa kehilangan pendengaran adalah bukan satu-satunya oerenggut kebahagiaan kita, sesungguhnya suara ketulusan bukan hanya didengar oleh telinga, tapi didengar melalui hati”. Beethoven pernah tuli, tapi ketuliannya tersebut tidak mengurungkan nasibnya untuk menjadi pemusik  dunia yang hebat.
Dan Lui pun tersebyum saat aku berbicara seperti itu. Dan hari itu kami bertiga beserta Lui dan keluarganya menghabiskan waktu bercerita hingga tak terasa matahari pun tenggelam meninggalkan tempatnya bersinar. Kami bertiga pun pamit pulang.
***
            Setelah kepulanganku dengan Anne dan temanku dari perkampungan kumuh itu, termasuk Lui dan keluarganya yang memberikan pelajaran semangat dan syukur luar biasa kepadaku. Saai itu juga setiap ada waktu aku slalu menyempatkan waktuku untuk pergi ke perkampungan itu bersam Anne. Ya, untuk membagi ilmu yang kami punya kepada mereka yang tidak bisa merasakan bangku pendidikan. Dan niat kami pun disambut baik oleh warga setempat, tak lupa kami pun berpesan kepada orang tua mereka untuk slalu mendukung niat anak-anaknya yang ingin merasakan pendidikn dengan bimbingan terbuka yang kami berikan. Agar anak-anak mereka tidak diforsif dengan pekerjaan yang sebenarnya sangat menghabiskan waktu bermain dan belajar untuk anak-anak seusia Lui. Berkat Lui aku tidak pernah lagi merasa tidak sempurna, karna ternyata kesempurnaan itu adalah kita yang bisa membuat diri kita berarti lebih dari siapa pun. Dengan keterbatasan yang Lui miliki, Lui ternyata jauh lebuh tegar, tak pernah nerasa putus asa meskipun sebenranya ia lelah. Lui membuatku akhirnya tidak membenci sebuah kesunyian. Dan papa telah memberinya Hearing Aid saat aku mengajaknya ke rumah Lui. Sehingga Lui pun bisa mendengar suara-suara kehidupan lagi.

Author by : Nana Owobiw