welcome to my Blog

welcome to my Blog
Nana Owobiw

Senin, 06 Mei 2013

Aenda, Lui

Aenda, Lui

Aenda Rera, namun sejak kecil papa terbiasa memanggilku dengan Alen. Aku tinggal disebuah komplek perumahan villa dengan halaman luas yang dipenuhi dengan bunga lilin, entah mengapa aku bisa menyebutnya bunga lilin. Mungkin pada saat itu aku masih kecil dan tak tau apa nama bunga bercahaya itu. Yang pasti pertama kali aku menemukan bunga itu di tepi danau yang berjarak dekat dengan komplek perumahan tempat tinggalku, bunga itu kecil dan tak begitu panjang dengan kelopak berwarna kuning cerah, sehingga pada waktu malam hari bila didekati, bunga itu seperti lilin yang bercahaya redup. Sejak saat itu aku paling rajin menyempatkan waktu sore hariku untuk mengambil bunga lilin yang masih muda untuk ku pindahkan di halaman depan rumahku untuk kemudian papa yang selalu menanamnya untukku.
Komplek perumahanku yang terletak dipinggiran kota, membuat suasana rumahku sedikit jauh dari hiruk pikuk dan keramaian kota. Sunyi, damai, dan hanya berdua dengan papa, membuat rumahku terlihat paling sepi diantara tetangga-tetanggaku. Apalagi pada waktu malam hari, namun aku telah terbiasa dengan keadaan seperti ini yang sehingga membuatku jatuh cinta dengan kesunyian.
Anehnya sejak kecil aku tak tau siapa mamaku, papa tak pernah cerita mama ada dimana, bahkan papa tak pernah memberitahuku siapa nama mamaku, atau sekedar memberitahu bagaimana wajah dari seorang mamaku. Setiap aku tanya soal mama, papa selalu mengalihkan semua pertanyaanku dan slalu menjawab dengan kata-kata yang sama “papa bisa menjadi papa sekaligus mama buat kamu”. Dan kalau papa sudah bicara seperti itu, aku tak berani untuk mengatakan apa-apa lagi. Bagiku mama hanyalah sekedar bayangan yang tak pernah ada dalam kehidupan nyataku. Papa benar, kenapa aku harus bertanya soal mama yang tak pernah ada, sedangkan papa yang telah membesarkanku selama 18 tahun ini adalah segalanya buatku, dan yang slalu ada menjagaku. Meskipun demikian, aku berharap aku tak berbeda lagi dengan yang lain. Tidak mungkin aku terlahir didunia tanpa adanya seorang ibu yang melahirkanku. Mungkin papa punya alasan tersendiri mengapa papa slalu merahasiakan soal mama kepadaku.
Bukan karena tidak adanya seorang mama yang membuat hidup ini terasa sepi, bukan karena aku hanya tinggal berdua dengan papa dirumah yang lumayan besar ini, ataupun suasana rumahku yang hangat dengan kedamaian yang membuat aku jatuh cinta dan tetap bahagia pada sebuah kesunyian yang justru biasanya dibenci dengan kebanyakan orang. Namun karena keadaan yang menjadikan aku seseorang yang tak mampu mendengar apapun bahkan indahnya nyanyian papa sebelum aku tidur sejak aku masih kecil. Namun karena waktu yang membiasakan semua itu, dan keadaan yang slalu menerima perbedaan yang ada padaku selama 18 tahun ini, bisa menjadikan aku sama seperti yang lainnya. Bisa bertahan pada kehidupan, meskipun tak sesempurna yang setiap orang inginkan dan meskipun hanya tergantung pada sebuah alat yang bernama Hearing Aid pemberian papa pada waktu aku masih duduk di kelas 4 SD yang harus aku pakai setiap hari. Iya, aku adalah seorang tuna rungu. Aku mengalami gangguan pendengaran semenjak kecelakaan yang menimpaku dengan papa 15 tahun yang lalu, tepatnya saat aku duduk dikelas 3 SD. Tetapi pada waktu masih kecil papa segera memeriksakan keadaanku, sehingga tak begitu parah sampai mempersulit bicaraku. Begitulah cerita papa. Meskipun begitu, tak sedikit hari yang aku lalui dengan cemooh dan ejekan teman-teman sebayaku. Terkadang aku heran dengan sikap mereka, apa alasan mereka dengan harus bersikap seperti itu. Bukankah tuli yang aku alami tak mengusik sedikitpun ketenangan hidup mereka. Entahlah, mungkin benar apa yang dibilang papa, mereka seperti itu hanya karna iri terhadapku karna aku selalu jadi juara dikelas. Itu yang slalu dibilang papa saat perasaan lelah dan putus asa menghampiriku pikiranku. Namun semua itu tak pernah menyurutkanku untuk berhenti pada sebuah kehidupan. Dan aku harus bisa melewatinya sesempurna mungkin serta berusaha menggantinya dengan setegar mungkin. Walaupun aku sadar, aku bukan gadis kecil papa lagi yang setiap hari harus mengeluh dan menangis dihadapan papa hanya karna aku dikatain si tuli oleh temanku, atau berteriak di jendela hanya karena ada penjual Es lewat di depan rumah. Tapi kali ini aku harus berjalan sendiri, seperti yang papa bilang dan tak boleh mengecewakannya.
***
Hari ini sedikit berbeda, kepulanganku kemarin sore membuatku benar-benar tertidur nyenyak malam harinya. Sampai-sampai aku baru terbangun setelah sinar matahari menerobos jendela kamarku, yang tentunya memaksaku untuk segera membuka mata yang masih ingin larut dalam mimpi indah tadi malam. Namun seperti hari-hari sebelumnya, hari ini pun tak ada yang istimewa selain keistimewaan pelukan rindu papa kemarin sore yang menyambut kepulanganku.
Kembali ke rutinitas sehari-hari setelah weekend sudah berlalu tadi malam.
“ Alen, sudah bangun nak ?” Terdengar teriakan papa dari pintu yang membuyarkan lamunan sesaatku saat itu.
Sambil setengah mataku tertutup aku melihat papa berdiri di depan pintu. Dengan menggunakan bahasa isyarat yang biasa kami gunakan, dan aku tahu apa yang sedang papa katakan. Segera aku menjawabnya.
“ Sudah papa !” Jawabku dalam keadaan masih setengah mengantuk, seolah aku paham dengan apa yang ditanyakan papa padaku.
Papa membuka tirai kamarku, dan seketika embun pagi menerobos hangatnya sinar matahari melalui jendela kamarku dan membuat suasana segar terasa di dalam ruangan ini.
“ Ayo, Alen sarapan dulu !” Ajak papa sambil menyodorkan Hearing Aid, untuk segera aku pakai.
“ Iya papa, maaf ya !” Jawabku sambil beranjak berdiri memeluknya.
“ Maaf kenapa sayang ?” Tanya papa yang terlihat sedikit bingung.
“ Maaf karena Alen bangun kesiangan, hehe !” Jawabku sambil terkikik geli melihat papa yang mulai sebel dengan pernyataanku.
“ Alen.. Alen.. “ senyum papa yang seketika itu terlontar sambil mengelus rambutku.
Aku sayang sekali dengan papa, setahun tinggal dengan tante di Paris jelas berbeda saat dengan tinggal bersama papa di rumah. Namun pagi ini pelukan papa bisa aku rasakan lagi setelah 1 tahun kemarin aku pergi meninggalkannya.
Aku berlari menuju ruang makan meninggalkan papa yang masih berada di kamarku. Sambil melihat kanan kiri di sekeliling meja makan. Kenapa hari ini tidak ada susu sapi dan nasi goreng buatan papa yang tersedia di atas meja makan seperti dulu sebelum aku meninggalkan papa ke Paris. Tanyaku dalam hati. Seketika mataku tertuju pada tudung saji yang berada diatas meja makan, berharap ada susu sapi dan nasi goreng telah tersaji didalamnya. Aku segera membukanya, namun setelah aku membukanya bukan lagi rasa lapar dan haus tapi persaan haru yang seketika muncul. Kue ulang tahun coklat dengan dipenuhi strawberry disekelilingnya, dan berdiri angka 19 ditengahnya. Oh my God, bahkan aku sendiri lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunku.
“ Happy birthday, Alen.. “ Terdengar suara papa yang berdiri di depan pintu kamarku yang ternyata dari tadi sedang mengawasiku tengah tertegun di ruang makan.
“ Papa..” ucapku pelan sambil berjalan menghampirinya dan segera memeluknya.
“ Sama-sama sayang.. “ Sambil meledekku karna aku belum mengucapkan terima kasih.
“ Iya papa, terima kasih, Alen sayang sama papa !” Senyumku sambil disusul dengan tetesan air mata yang tak bisa aku tahan detik itu karna terbawa suasana haru.
Di pelukan papa aku hanya bisa berjanji akan slalu jadi yang terbaik untuk papa dan dalam hati meminta maaf karna telah meninggalkannya selama setahun ini hanya karna aku ingin menikmati liburanku di Paris. Lalu papa menggandengku ke meja makan kembali.
“ Ayo, sekarang tiup lilinnya dan tuangkan harapan kamu sambil berdoa !” perintah papa dan segera aku lakukan saat itu juga.
Dalam hatiku, aku hanya ingin papa selalu ada disampingku karna hanya papa lah yang selalu memberitahuku bahwa selalu ada bahagia dalam kehidupan seseorang dan akan selalu ada orang yang dikirim untuk selalu membuat kita bahagia.
“ Sudah, anak papa yang paling cantik !” Goda papa sambil tersenyum, memastikan aku selesai mengucapkan make a wish.
Selanjutnya aku hanya tersenyum melirik ke arah papa.
“ Kali ini Alen yang akan masak nasi goreng untuk sarapan kita hari ini !” Sambil mengusap air mata yang dari tadi menetes, aku segera menuju dapur.
Dan papa hanya tersenyum, melihatku yang begitu semangat untuk memasak pagi itu.

***
            Waktu menunjukkan pukul 9 pagi, dan saatnya memulai rutinitas dikampus tercintaku.
“Aenda berangkat dulu paa..!” Teriakku sambil menutup pintu kamar dan menghampiri papa yang saat itu tengah membaca koran di ruang makan.
“Iya, hati-hati Aend..!” Kata papa sambil mengelus rambutku saat aku mencium tangannya.
Lalu aku bergegas berangkat karna waktu telah menunjukkan pukul  8 pagi, aku berjalan melewati kompleks perumahan yang masih sepi dengan aktivitas. Hanya ada tukang penjual sayur keliling yang tengah menjajakan dagangannya. Setelah sampai diujung jalan, aku segera merapat ke halte dan menunggu taxi di tempat duduk halte. Berharap untuk cepat mendapatkan taxi untuk segera aku tumpangi. Selang 10 menit kemudian, Taxi pun lewat dan mengantarkanku melesat ke arah ibu kota. Sesampainya di depan kampus aku segera berjalan menyusuri lorong-lorong kelas yang mulai ramai dengan mahasiswa.
Tiba ruang 5.12 dengan dosen terkilernya pengantar psikologi. Aku segera memasuki ruang kelas yang saat itu penuh riuh dan segera menghampiri Anne, sahabat baikku. Aku duduk disebelahnya dan mulai mendiskusikan tugas observasi yang diberikan oleh Bu Juar kepada kami.
“Silahkan membentuk kelompoknya masing-masing dan mengambil form ke saya untuk segera melakukan observasi!” Seru ketua tingkat kami memberi intruksi.
Aku, Anne, dan teman satu lagi segera mengisi form dan beranjak meninggalkan kelas untuk mengunjungi perkampungan kumuh dipinngiran ibu kota sebagai tujuan observasi kami.
***
            Mobil yang dikendarai Anne pun mulai melesat jauh meninggalkan parkiran kampus. Menyisiri ibu kota yang sudah nampak macet untuk jam aktivitas seperi sekarang. Selang beberapa kemudian, kami pun sampai di perkampungan kumuh itu. Benar saja, dibalik gedung-gedung pencakar langit yang mewah ditengah ibu kota, ternyata dibaliknya miris dengan keadaan yang berbanding terbalik dengan mewahnya kota Jakarta yang serba ada. Sempit, dan benar-benar kumuh. Sama sekali tidak terbayangka bagaimana nasib kesehatan mereka, pendidikan, maupun ekonomi yang berada disana. Aku masih tertegun mengamati sekeliling perkampungan kumuh itu dibalik kaca mobil Anne.
“Aend ayo keluar!” Teriak Anne mengajakku keluar.
Kami bertiga pun segera berjalan memasuki jalan sempit perkampungan kumuh itu. Karna mobil Anne tidak bisa memasuki jalan yang ada di perkampungan itu, jadi terpaksa harus diparkir depan warung diujung jalan.
Belum melangkah lebih jauh, aku sudah mendapati pandangan yang cukup membuat hati terasa pilu. Umumnya jam-jam seperti ini adalah waktu anak untuk mendengarkan pelajaran di kelas, membawa tas dn bersepatu rapi dengan baju seragamnya. Bukannya membawa karung dengan tumpukan sampah, bahkan tanpa alas kaki.
Segera aku menghampiri anak tersebut dengan seribu pertanyaan yang mulai muncul dibenakku.
“Adek,, !” Sapaku pelan sambil menghampirinya.
Tatapan dingin dan asing mulai keluar dari raut wajahnya yang masih polos.
 “Kamu gak sekolah?” Tanyaku lagi sambil tersenyum menatapnya.
Dia hanya diam dan menatap mimik mulutku yang berbicara. “Iya sekolah, ini kan jamnya anak sekolah! Tambahku lagi.
Aku hanya menoleh ke arah Anne dan satu temanku yang lain hanya tertegun diam berdiri dibelakangku.
Tak lama setelah itu anak tersebut berbalik arah dan berlari kecil. Aku bingung dengan sikapnya, apa pertanyaanku membuatnya sakit hati. Karna merasa tidak enak hati, aku pun segera berlari menyusulnya, Anne dan satu temanku yang lain pun menyusulku di belakang. Tak begitu lama, sampai lah aku membuntuti anak itu. Gadis kecil itu berhenti disebuah rumah kardus yang dihalamnnya penuh dengan botol-botol plastik sisa air mineral. Aku pun memberanikan diri untk memasuki rumah itu, tak bermaksud lancang karna rumah itu hanya terdiri dari satu pintu dan itupun terbuka karna tidak ada daun pintunya.
“Permisi..!” Teriakku dengan pelan.
Betapa kagetnya mata ini melihat, dalam bayanganku didalam rumah kardus itu ada berpetak-petak ruangan. Namun salah besar, begitu aku, Anne dan satu temanku yang lain akan memasuki rumah tersebut langkah kami terhenti seketika. Bagaimana tidak, ternyata rumah gadis kecil itu hanya terdiri dari satu petak ruangan yang sangat sempit, tidak ada jendela, dan udara hanya masuk lewat pintu kecil yang terbuka itu. Pengap sekali, sedangkan didalam terlihat ada seorang ibu dan dua anak kecil yang salah satunya adalah gadis kecil tadi.
“Maaf bu..saya..”
“Tidak apa-apa silahkan masuk!” Ibu itu memotong bicaraku dan dengan ramah mempersilahkan kami bertiga masuk ke dalam.
“Kalian ini siapa, dan ada perlu apa datang kesini?” Tanya ibu itu dengan suara lirih.
“Sebelumnya maaf bu, saya tadi bertemu dengan anak ibu dan saya tanya soal!” Bicaraku terhenti seketika.
“Iya, Lui sudah cerita kepada saya!” Sahut ibu itu sembari masih tersenyum ramah dan ternyata anak gadis kecil itu bernama Lui.
Ibu itu banyak bercerita kepada kami saat itu, dan kami pun memberitahu bahwa kedatangan kami bertiga di kampung itu hanya untuk observasi dan tidak bermaksud merugikan siapapun. Ibu itu pun mengerti dan bercerita tentang hidupnya dan keluarganyam termasuk Lui anaknya. Ibu tersebut mengatakan, bahwa dulu ia adalah orang yang berkecukupan, dan Lui pun sebenarnya pernah merasakan bangku pendidikan di sekolah dasar hingga kelas 5 SD. Namun keadaan berubah setelah mereka sekeluarga mengalami musibah kecelakaan, yang membuat suaminya meninggal dunia dan Lui yang mendadak menjadi tuli. Pantas saja saat berbicara denganku, dia hanya diam dan melihat kearah mimik bibirku.
Cerita dan musibah yang dialami Lui sama seperti apa yang aku alami dengan papa. Hanya saja Lui saat ini ada bersama ibunya dan ditemani dengan adiknya yang masih sekitar berumur 3 tahun. Sejak saat itulah hutang di keluarga mereka menumpuk sehingga semua rmah dan hata bendanya habis dan disita bank, dan harus terpaksa tinggal dalam keadaan yang sangat berbanding terbalik dengan keadaanya dahulu. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan Lui, sangat tertekan untuk anak seusia Lui. Aku pun mencoba berbicara dengan Lui dengan bahasa iayarat yang ia mengerti. “Bahwa kehilangan pendengaran adalah bukan satu-satunya oerenggut kebahagiaan kita, sesungguhnya suara ketulusan bukan hanya didengar oleh telinga, tapi didengar melalui hati”. Beethoven pernah tuli, tapi ketuliannya tersebut tidak mengurungkan nasibnya untuk menjadi pemusik  dunia yang hebat.
Dan Lui pun tersebyum saat aku berbicara seperti itu. Dan hari itu kami bertiga beserta Lui dan keluarganya menghabiskan waktu bercerita hingga tak terasa matahari pun tenggelam meninggalkan tempatnya bersinar. Kami bertiga pun pamit pulang.
***
            Setelah kepulanganku dengan Anne dan temanku dari perkampungan kumuh itu, termasuk Lui dan keluarganya yang memberikan pelajaran semangat dan syukur luar biasa kepadaku. Saai itu juga setiap ada waktu aku slalu menyempatkan waktuku untuk pergi ke perkampungan itu bersam Anne. Ya, untuk membagi ilmu yang kami punya kepada mereka yang tidak bisa merasakan bangku pendidikan. Dan niat kami pun disambut baik oleh warga setempat, tak lupa kami pun berpesan kepada orang tua mereka untuk slalu mendukung niat anak-anaknya yang ingin merasakan pendidikn dengan bimbingan terbuka yang kami berikan. Agar anak-anak mereka tidak diforsif dengan pekerjaan yang sebenarnya sangat menghabiskan waktu bermain dan belajar untuk anak-anak seusia Lui. Berkat Lui aku tidak pernah lagi merasa tidak sempurna, karna ternyata kesempurnaan itu adalah kita yang bisa membuat diri kita berarti lebih dari siapa pun. Dengan keterbatasan yang Lui miliki, Lui ternyata jauh lebuh tegar, tak pernah nerasa putus asa meskipun sebenranya ia lelah. Lui membuatku akhirnya tidak membenci sebuah kesunyian. Dan papa telah memberinya Hearing Aid saat aku mengajaknya ke rumah Lui. Sehingga Lui pun bisa mendengar suara-suara kehidupan lagi.

Author by : Nana Owobiw

Minggu, 05 Agustus 2012

Life is Journey


Kadang untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, kita harus berusaha sendiri bagaimana supaya kita bisa meraihnya.

Kita yang berjuang, kita yang berusaha, kita yang menanti aja terkadang Tuhan belum ngasih yang kita inginkan tesebut. Karna Tuhan adil, Tuhan bukan memberikan apa yang kita inginkan untuka ada melainkan bagaimana besar kita menginginkan hal tersebut. Tapi dibalik semua itu, Tuhan menuntun kita agar kita bia mendapatkan apa yang kita ingin dengan jalan memberikan apa yang kita butuhkan untuk tetap berusaha dan tidak putus asa.

Itu kita berjuang, nah gimana kalo kita hanya mengharapkan??

Mana ada semua itu datang sendiri, because Life Is Journey. Kita ibarat berjalan dari pintu satu ( lahir ) menuju pintu ke-2 ( mati ). Tapi ditengah perjalanan tersebut kita tetap boleh melakukan berbagai hal yang kita inginkan dan yang menentukan perjalanan kita, tentunya tak lepas dari berbagai hal yang menguji kita. Dan Tuhan melihat seberapa kuat kita bisa terlatih untuk brtahan dalam rasa sakit, dan percayalah Tuhan akan memberikan bahagia pada saatnya yang tepat. So keep smile and spirit :)

Sabtu, 04 Agustus 2012

Your Special Day,,

4 Agustus 2012

happy birthday to you.. :)

Tepat di usia kamu yang ke 19, tetap pula you are my prince forever.
bla,, bla,, bla,, listen to me.

Masih Cinta kau yang slalu menjagaku disaatku bersedih, dimana kau kini kau yang slalu memelukku disaatku menangis,
mengapa kah kau pergi,
bahagia kau lihat terpurukku disini, menanti kau kembali,
aku masih cinta aku masih sayang walau kau sakiti hatiku, aku masih setia masih tetap setia walau kau sakiti hatiku kau hancurkan aku kau..
Kau yang selalu memelukku disaatku menangis, mengapakah kau pergi,
bahagia kau lihat terpurukku disini, menanti kau kembali,
aku masih cinta aku masih sayang walau kau sakiti hatiku,
aku masih setia, masih tetap setia, walau kau sakiti hatiku kau hancurkan aku..


Prince, from morning until night I wait for you, but you does not there are to come for me, make a reply my sms, call me up, or give me the news where you are, and why did not there are in here???
Maybe you forgotten? or maybe you do not want to bother me, but why only those who can smile and be happy you are with you in your happy day today. :(


WHAT DO YOU KNOW ??
memberimu kue, meskipun kamu tak mengetahuinya.








kamu gak tau kan, kue ini dari siapa ??
sengaja aku pesen bat kamu, berharap kamu terima langsung dari aku, kamu nerima dengan seneng, hepi, pengen tau ekspresi kamu juga, tapi semua itu gak mungkin.
kamu pasti marah, gak suka, terus benci.
Akhirnya aku dibantu sama temen-temen kamu,
mereka semua baik,
meskipun mereka yang tau, tapi aku berharap kamu tau, dan kamu suka!
suatu hari nanti,, amiin

Denk_donk'190408'  ( aku sayang kamu B )

Selasa, 17 Juli 2012

AURAT




Oleh: Hasan Husen Assagaf

AURAT adalah bagian tubuh yang wajib ditutup dan haram melihatnya. Dalam hukum fiqih aurat laki laki antara pusar dan lutut, sedang aurat perempuan, karena sangat sensitive, seluruh tubuhnya kecuali muka dan tapak tangan. Menutup aurat adalah cabang dari iman. Yang tidak menutupnya berarti tidak ada iman, yang tidak punya iman berarti tidak punya malu. Jelasnya, malu termasuk cabang dari iman. Iman amat berkaitan dengan malu. “Bila malu hilang hilanglah iman, jika iman hilang malupun ikut terbang”. Itu yang kita dapatkan dari hadith Rasulallah saw.
Saat Nabi Adam as dan istrinya Hawa turun ke bumi, keduanya dalam kondisi tak sehelai benangpun di tubuh mereka. Menyadari hal itu Adam as dan Hawa segera mencari dedaunan dan kulit pohon untuk dijadikan pakaian yang menutupi aurat mereka. Padahal pada saat itu tidak ada seorang pun yang melihat, kecuali mereka berdua, suami istri. Tapi mereka berusaha menutupi aurat mereka masing masing karena rasa malu mereka yang sangat tinggi.
Ada cerita tentang Balqis, ratu negri Saba-Yaman ketika berkunjung ke istana nabi Sulaiman. Ia tercengang melihat kemewahan dan keindahan istana. Saking kagumnya Ratu Balqis menarik abayanya (rok panjangnya) karena ia mengira lantai istana digenangi air. Padahal itu semua karena kecanggihan istana Sulaiman as. Roknya sempat terangkat dan betisnya pun sempat terlihat. Walaupun kejadian itu hanya sekejap tapi cukup membuat ratu Balqis malu besar, mukanya merah padam dan segra menutup betisnya.
Diriwayatan pernah siti Aisyah ra bertanya kepada Rasulallah saw “wahai Rasulallah, betulkan nanti di hari kiamat para perempuan dikumpulkan bersama lelaki kesemuanya dalam keadaan tanpa busana?” Rasulallah pun menjawab “Betul”. Mendengar yang demikian Aisyah ra menangis sejadi jadinya dan berkata “Alangkah malunya, alangkah malunya ya Rasulallah” Namun beliau kemudian menjelaskan: “wahai Aisyah, di akhirat nanti manusia sibuk dengan dirinya masing masing sehingga tidak ada waktu dan kesempatan untuk memperhatikan aurat orang lain”. Hadisth ini dimuat sebagai gambaran seorang wanita yang kuat imannya dan memiliki rasa malu yang dalam.
Cerita tentang aurat tentu kita bertanya kenapa Rasulallah saw lahir dalam keadaan sudah berkhitan? Kalau kita sering membaca kitab maulid tentu kita akan mendapatkan jawabannya. Rasulallah lahir dalam keadaan berkhitan agar tidak ada yang melihat auratnya dari pandangan orang lain. Dan itu merupakan sebagian dari kemuliaan Allah yang diberikan kepada beliau. Jelasnya beliau terpelihara dan terjaga dari keburukan, kejelekan, dosa dan kemaksiatan.
Satu kali, ketika Rasulallah saw masih kecil ikut memperbaiki Ka’bah bersama sama orang Quraisy Makah. Beliau pun ikut gotong royong membatu mengangkat sebuah batu yang cukup besar dan berat sehingga qamis beliau tersingkap. Tiba tiba batu itu jatuh dan mengenai kakinya sampai beliau pingsan. Dengan jatuhnya batu maka qamis beliau kembali menutup aurat beliau yang tersingkat.
Dulu derajat malu khususnya dikalangan wanita sangat tinggi. Sangat jarang kita dapatkan wanita keluar rumah. Kalau keluar, auratnya selalu ditutup rapat-rapat dan selalu disertai mahram untuk menjaganya. Orang tua atau suami sangat cemburu bila aurat anaknya atau istrinya dilihat orang lain.
Dulu orang selalu menjaga kadar iman dan menempatkan kaum wanita pada posisinya sesuai dengan syariat yang diajarkan agama. Makanya mereka selalu menjaga keturunan mereka dan memelihara auratnya serapi mungkin sejak kecil. Mereka berikan pakaian yang sesuai dengan standar syariat, tidak diobral semaunya, apalagi dipamerkan di halayak ramai. Karena aurat wanita secara otomatis berbeda dengan pria amat berharga dan sensitive mengundang orang berbuat dosa.
Berbeda dengan zaman sekarang aurat, maksiat, kerusakan sudah menjadi lumrah dan sulit dibendung. Benar apa yang dikatakan Ahmad Syauqi “kukuhnya satu bangsa terletak pada moralnya. Apabila moralnya rusak, maka bangsa tersebut ikut bejat” Adapun salah satu penyeban kehancuran moral dan akhlak karena pengaruh pornografi. jadi sangat wajar sekali jika dilakukan pelarangan terhadap majalah Play Boy dan majalah majalah lainnya di Indonesia yang masih menyajikan hal hal yang berbau porno. Sebetulnya, kalo mau, pemerintah sendiri cukup untuk menyetop dan melarang penerbitan majalah Play Boy, tapi kok engga bisa? Ini pertanyaan yang harus dijawab oleh diri kita masing masing. Saya yakin anda, saya, dan siapa saja tahu jawabannya.
Sudah barang tentu ada beberapa cara yang digunakan untuk menyelamatkan moral dan akhlak bangsa sesuai dengan yang dianjurkan Rasulallah saw. Pertama mereka yang mampu berda’wah dengan kekuatan. Yaitu orang yang bisa merobah dengan tangannya jika melihat kemungkaran dan kemaksiatan. Kedua mereka yang mampu berda’wah dengan lisannya. Sedang yang paling lemah ialah yang hanya mampu menjahui dan membenci di dalam hati tanpa berbuat apa apa.
Memang ada hadits yang mengatakan “katakanlah yang hak (benar) walaupun yang benar itu pahit”. Hadist ini jelas menyuruh meluruskan, memperbaiki atau tegasnya merobah apa apa yang dilihat salah, tapi bukan dengan kekerasan, bukan dengan emosi, bukan dengan caci maki. Hati seorang muslim itu bukan batu, ia tidak sekeras batu. Batu saja masih lunak jika terus menerus ditetesi air.
Jadi, cara menyampaikan yang haq (benar) pun harus bijaksana dan dengan menggunakan bahasa yang sopan, lembut dan menyentuh. Satu kali Khalifah Makmun putra Harun Al-Rasyid dikeritik,dikecam dengan pedas dan disertai caci maki oleh sekelompok orang. Beliau sangat marah dan menyuruh orang yang mengeritiknya membuka al-Quran surat Taha ayat 43-44, dimana Allah menyuruh kepada nabi Musa dan Harun as untuk mendatangi Firaun dan berbicara kepadanya dengan kata kata yang lembut (qaulan layyinan). Makmun putra Harun Al-Rasyid menegaskan bahwa dirinya adalah seorang muslim masih jauh lebih baik dibandingkan dengan Firaun yang musyrik bahkan mengaku Tuhan.
***

Arti Sebenarnya Lagu Ilir – Ilir 

 

ilir, ilir-ilir
tandure wus sumilir
tak ijo royo-royo
tak sengguh temanten anyar

Bait di atas di atas secara harafiah menggambarkan hamparan tanaman padi di sawah yang menghijau, dihiasi oleh tiupan angin yang menggoyangkannya dengan lembut. Tingkat ke-muda-an itu dipersamakan pula dengan pengantin baru. Jadi ini adalah penggambaran usia muda yang penuh harapan, penuh potensi, dan siap untuk berkarya.

Bocah angon, bocah angon
penekno blimbing kuwi
lunyu-lunyu penekno
kanggo mbasuh dodot-iro
Anak gembala, panjatlah [ambillah] buah belimbing itu [dari pohonnya]. Panjatlah meskipun licin, karena buah itu berguna untuk membersihkan pakaianmu.
Buah belimbing yang seringkali bergigir lima itu melambangkan lima rukun Islam; dan sari-pati buah itu berguna untuk membersihkan perilaku dan sikap mental kita. Ini harus kita upayakan betapapun licinnya pohon itu, betapapun sulitnya hambatan yang kita hadapi.
Anak gembala dapat diartikan sebagai anak remaja yang masih polos dan masih dalam tahap awal dari perkembangan spiritualnya. Konotasi inilah yang sering muncul seketika bila orang Jawa menyebut ‘bocah angon’.
Namun pengertiannya dapat pula ditingkatkan menjadi pemimpin, baik pemimpin keluarga, tokoh masyarakat, ataupun pemimpin formal dalam berbagai tingkatan.

Dodot-iro, dodot-iro
kumitir bedah ing pinggir
dondomono, jlumatono
kanggo sebo mengko sore
Pakaianmu berkibar tertiup angin, robek-robek di pinggirnya. Jahitlah dan rapikan agar pantas dikenakan untuk “menghadap” nanti sore.
“Sebo” adalah istilah yang dipergunakan untuk perbuatan ‘sowan’ atau menghadap raja atau pembesar lain di lingkungan kerajaan.
Makna pakaian adalah perilaku atau sikap mental kita. Menghadap bermakna menghadap Allah. Nanti sore melambangkan waktu senja dalam kehidupan, menjelang kematian kita’

Mumpung padhang rembulane
mumpung jembar kalangane
Manfaatkan terang cahaya yang ada, jangan tunggu sampai kegelapan tiba. Manfaatkan keluasan kesempatan yang ada, jangan menunggu sampai waktunya menjadi sempit bagi kita.

^^nana^^

AlwaysOn, Bebas Itu Nyata !!


Kebebasan itu omong kosong,

Katanya aku bebas berekspresi, tapi selama rok masih dibawah lutut.. :)
Hidup itu singkat, mumpung masih muda nikmatin sepuasnya,, heehee asal jangan lewat dari jam 10 malam..

Katanya  urusan jodoh sepenuhnya ada ditanganku, asalkan sesuku, pria yg sholeh, cinta yang tulus, pernikahan yg bahagia, dan dari keluarga baik-baik.. (seperti dia :) )

Kata orang pilihan itu tak ada batasnya, selama ikutin pilihan yg ada..

Always on, bebas itu nyata..
adapted from iklan 3

Kamis, 21 Juni 2012

Ketika Galau Menghampirimu, Bershowerlah !!



Ketika Galau Menghampirimu, Bershowerlah !! hehe mungkin kata-kata itu yang lagi In banget. Kata-kata yang di adopsi dari pocong juga poconggg ini lucu namun realistis, liat aja kalo udah pada galau larinya pasti ke kamar mandi, nyalain shower, terus nangis di air, sambil nyanyi. Pasti deh, telenovela banget pokoknya.
Fenomena GALAU, memang lagi musim di kalangan para remaja. Katanya kalau gak galau itu, gak gaul! :DD
tanpa senyum, sok mogok makan,sensitif gitu lah.




kalau udah galau, yang namanya HP pasti gak lepas dari tangan. ( curcol ). hehe

Tapi apa sih galau itu?? dan gimana ya solusinya??

GALAU itu sebenernya, masalah yg kita hadapi itu terus muncul, bahkan lebih dari satu, terus kita bingung untuk memilihnya, atau bahkan untuk menyelesaikannya.
Galau pun ada yang level biasa banget, namun ada yang level kronis juga! Contohnya yang level biasa banget alias galau yang gak penting itu gini, masa mau makan malam antara mau makan mie atau nasi aja udah ngeluh "aku galau mau makan yang mana ??" #GUBRAK gak penting kan.
Nah kalau galau kronis beda lagi, gini misalnya, enak-enak makan, dapet sms dari pacar :
From : Bebeb
yangg, pokoknya mulai sekarang kita putus ! aku pilih selingkuhanku aja, soalnya dia sering beliin aku baju, gak kayak kamu ngajak makan aja sepiring berdua, itupun setahun sekali waktu ramadhan. Gimana gak, org minta jatah ta'jhil masjid ! huh BT, pokoknya putus !

haha gimana gak bikin depresi !! langsung deh, makan gak dihabisin, nge'BBM gag di read, sms gak di bales, akhirnya lari kan ke kamar mandi! hahaha

Buat teen'ers sejati, gak usah galau kalu menurutku. Selain gak ada untungnya, masalah juga gak akan selesai jika kita mengurung perasaan dan terus berbangga ria buat galau. Yang ada merugikan diri kita sendiri.

Solusi buat ngilangin galau !

1. Keep your smile, karena senyum merupakan sumber kekuatan dalam diri kita agar kita tetap tegar. Selain gag nunjukin kalau kita lemah, dengan senyum kita juga bisa melihat semua masalah dan menghadapinya dengan tenang.

2. Jangan SEDIH dan hapus air mata, karena akan menambah beban berpikir kita, jadi cengeng terus kerjaannya gak penting tiap hari nangis terus.


3. Jadikan GALAU sebagai motivasi, dalam arti :





4. Update status, dalam arti kita share jangan malah bikin masalah kita dibeberkan ke orang lain, So just mencari pendapat atau sekedar bikin kode aja, misal kalau kita lagi galau atau lagi hepi tapi galau.


5. Ketika Galau Menghampirimu, Bershowerlah.
konyol, tapi percaya gak, air yang mengalir di kepala itu bisa membuat pikiran kita jadi lebih tenang, jernih dan bahkan bisa lebih berposting ( positive thinking ). hehe
coba aja, pasti kedinginan !! hehe bercanda, bener deh pasti lebih enakan! :DD




Yaa itu tadi seputar dumia galau, yang singkat-singkat saja. Jika menghadapi masalah galau, jangan dipikir serius, woles aja, alias selow biar pikiran gak tersiksa tegang terus. :DD
end..