Aenda, Lui
Aenda Rera, namun sejak kecil papa terbiasa
memanggilku dengan Alen. Aku tinggal disebuah komplek perumahan villa dengan
halaman luas yang dipenuhi dengan bunga lilin, entah mengapa aku bisa
menyebutnya bunga lilin. Mungkin pada saat itu aku masih kecil dan tak tau apa
nama bunga bercahaya itu. Yang pasti pertama kali aku menemukan bunga itu di
tepi danau yang berjarak dekat dengan komplek perumahan tempat tinggalku, bunga
itu kecil dan tak begitu panjang dengan kelopak berwarna kuning cerah, sehingga
pada waktu malam hari bila didekati, bunga itu seperti lilin yang bercahaya
redup. Sejak saat itu aku paling rajin menyempatkan waktu sore hariku untuk
mengambil bunga lilin yang masih muda untuk ku pindahkan di halaman depan
rumahku untuk kemudian papa yang selalu menanamnya untukku.
Komplek perumahanku yang terletak dipinggiran
kota, membuat suasana rumahku sedikit jauh dari hiruk pikuk dan keramaian kota.
Sunyi, damai, dan hanya berdua dengan papa, membuat rumahku terlihat paling
sepi diantara tetangga-tetanggaku. Apalagi pada waktu malam hari, namun aku
telah terbiasa dengan keadaan seperti ini yang sehingga membuatku jatuh cinta
dengan kesunyian.
Anehnya sejak kecil aku tak tau siapa mamaku, papa tak pernah cerita
mama ada dimana, bahkan papa tak pernah memberitahuku siapa nama mamaku, atau
sekedar memberitahu bagaimana wajah dari seorang mamaku. Setiap aku tanya soal
mama, papa selalu mengalihkan semua pertanyaanku dan slalu menjawab dengan
kata-kata yang sama “papa bisa menjadi papa sekaligus mama buat kamu”. Dan
kalau papa sudah bicara seperti itu, aku tak berani untuk mengatakan apa-apa
lagi. Bagiku mama hanyalah sekedar bayangan yang tak pernah ada dalam kehidupan
nyataku. Papa benar, kenapa aku harus bertanya soal mama yang tak pernah ada, sedangkan
papa yang telah membesarkanku selama 18 tahun ini adalah segalanya buatku, dan
yang slalu ada menjagaku. Meskipun demikian, aku berharap aku tak berbeda lagi
dengan yang lain. Tidak mungkin aku terlahir didunia tanpa adanya seorang ibu
yang melahirkanku. Mungkin papa punya alasan tersendiri mengapa papa slalu
merahasiakan soal mama kepadaku.
Bukan karena tidak adanya seorang mama yang
membuat hidup ini terasa sepi, bukan karena aku hanya tinggal berdua dengan
papa dirumah yang lumayan besar ini, ataupun suasana rumahku yang hangat dengan
kedamaian yang membuat aku jatuh cinta dan tetap bahagia pada sebuah kesunyian
yang justru biasanya dibenci dengan kebanyakan orang. Namun karena keadaan yang
menjadikan aku seseorang yang tak mampu mendengar apapun bahkan indahnya
nyanyian papa sebelum aku tidur sejak aku masih kecil. Namun karena waktu yang
membiasakan semua itu, dan keadaan yang slalu menerima perbedaan yang ada
padaku selama 18 tahun ini, bisa menjadikan aku sama seperti yang lainnya. Bisa
bertahan pada kehidupan, meskipun tak sesempurna yang setiap orang inginkan dan
meskipun hanya tergantung pada sebuah alat yang bernama Hearing Aid pemberian papa pada waktu aku masih duduk di kelas 4 SD
yang harus aku pakai setiap hari. Iya, aku adalah seorang tuna rungu. Aku
mengalami gangguan pendengaran semenjak kecelakaan yang menimpaku dengan papa
15 tahun yang lalu, tepatnya saat aku duduk dikelas 3 SD. Tetapi pada waktu
masih kecil papa segera memeriksakan keadaanku, sehingga tak begitu parah
sampai mempersulit bicaraku. Begitulah cerita papa. Meskipun begitu, tak
sedikit hari yang aku lalui dengan cemooh dan ejekan teman-teman sebayaku.
Terkadang aku heran dengan sikap mereka, apa alasan mereka dengan harus
bersikap seperti itu. Bukankah tuli yang aku alami tak mengusik sedikitpun
ketenangan hidup mereka. Entahlah, mungkin benar apa yang dibilang papa, mereka
seperti itu hanya karna iri terhadapku karna aku selalu jadi juara dikelas. Itu
yang slalu dibilang papa saat perasaan lelah dan putus asa menghampiriku
pikiranku. Namun semua itu tak pernah menyurutkanku untuk berhenti pada sebuah
kehidupan. Dan aku harus bisa melewatinya sesempurna mungkin serta berusaha
menggantinya dengan setegar mungkin. Walaupun aku sadar, aku bukan gadis kecil
papa lagi yang setiap hari harus mengeluh dan menangis dihadapan papa hanya
karna aku dikatain si tuli oleh temanku, atau berteriak di jendela hanya karena
ada penjual Es lewat di depan rumah. Tapi kali ini aku harus berjalan sendiri,
seperti yang papa bilang dan tak boleh mengecewakannya.
***
Hari ini sedikit berbeda, kepulanganku
kemarin sore membuatku benar-benar tertidur nyenyak malam harinya.
Sampai-sampai aku baru terbangun setelah sinar matahari menerobos jendela
kamarku, yang tentunya memaksaku untuk segera membuka mata yang masih ingin
larut dalam mimpi indah tadi malam. Namun seperti hari-hari sebelumnya, hari
ini pun tak ada yang istimewa selain keistimewaan pelukan rindu papa kemarin
sore yang menyambut kepulanganku.
Kembali ke rutinitas sehari-hari setelah weekend sudah berlalu tadi
malam.
“ Alen, sudah bangun nak ?” Terdengar teriakan papa dari pintu yang
membuyarkan lamunan sesaatku saat itu.
Sambil setengah mataku tertutup aku melihat papa berdiri di depan pintu.
Dengan menggunakan bahasa isyarat yang biasa kami gunakan, dan aku tahu apa
yang sedang papa katakan. Segera aku menjawabnya.
“ Sudah papa !” Jawabku dalam keadaan masih setengah mengantuk, seolah
aku paham dengan apa yang ditanyakan papa padaku.
Papa membuka tirai kamarku, dan seketika embun pagi menerobos hangatnya
sinar matahari melalui jendela kamarku dan membuat suasana segar terasa di
dalam ruangan ini.
“ Ayo, Alen sarapan dulu !” Ajak papa sambil menyodorkan Hearing Aid, untuk segera aku pakai.
“ Iya papa, maaf ya !” Jawabku sambil beranjak berdiri memeluknya.
“ Maaf kenapa sayang ?” Tanya papa yang terlihat sedikit bingung.
“ Maaf karena Alen bangun kesiangan, hehe !” Jawabku sambil terkikik
geli melihat papa yang mulai sebel dengan pernyataanku.
“ Alen.. Alen.. “ senyum papa yang seketika itu terlontar sambil
mengelus rambutku.
Aku sayang sekali dengan papa, setahun tinggal dengan tante di Paris
jelas berbeda saat dengan tinggal bersama papa di rumah. Namun pagi ini pelukan
papa bisa aku rasakan lagi setelah 1 tahun kemarin aku pergi meninggalkannya.
Aku berlari menuju ruang makan meninggalkan papa yang masih berada di
kamarku. Sambil melihat kanan kiri di sekeliling meja makan. Kenapa hari ini
tidak ada susu sapi dan nasi goreng buatan papa yang tersedia di atas meja
makan seperti dulu sebelum aku meninggalkan papa ke Paris. Tanyaku dalam hati.
Seketika mataku tertuju pada tudung saji yang berada diatas meja makan,
berharap ada susu sapi dan nasi goreng telah tersaji didalamnya. Aku segera
membukanya, namun setelah aku membukanya bukan lagi rasa lapar dan haus tapi
persaan haru yang seketika muncul. Kue ulang tahun coklat dengan dipenuhi
strawberry disekelilingnya, dan berdiri angka 19 ditengahnya. Oh my God, bahkan aku sendiri lupa kalau
hari ini adalah hari ulang tahunku.
“ Happy birthday, Alen.. “ Terdengar suara papa yang berdiri di depan
pintu kamarku yang ternyata dari tadi sedang mengawasiku tengah tertegun di
ruang makan.
“ Papa..” ucapku pelan sambil berjalan menghampirinya dan segera
memeluknya.
“ Sama-sama sayang.. “ Sambil meledekku karna aku belum mengucapkan
terima kasih.
“ Iya papa, terima kasih, Alen sayang sama papa !” Senyumku sambil
disusul dengan tetesan air mata yang tak bisa aku tahan detik itu karna terbawa
suasana haru.
Di pelukan papa aku hanya bisa berjanji akan slalu jadi yang terbaik
untuk papa dan dalam hati meminta maaf karna telah meninggalkannya selama
setahun ini hanya karna aku ingin menikmati liburanku di Paris. Lalu papa
menggandengku ke meja makan kembali.
“ Ayo, sekarang tiup lilinnya dan tuangkan harapan kamu sambil berdoa !”
perintah papa dan segera aku lakukan saat itu juga.
Dalam hatiku, aku hanya ingin papa selalu ada disampingku karna hanya
papa lah yang selalu memberitahuku bahwa selalu ada bahagia dalam kehidupan
seseorang dan akan selalu ada orang yang dikirim untuk selalu membuat kita
bahagia.
“ Sudah, anak papa yang paling cantik !” Goda papa sambil tersenyum,
memastikan aku selesai mengucapkan make a
wish.
Selanjutnya aku hanya tersenyum melirik ke arah papa.
“ Kali ini Alen yang akan masak nasi goreng untuk sarapan kita hari ini
!” Sambil mengusap air mata yang dari tadi menetes, aku segera menuju dapur.
Dan papa hanya tersenyum, melihatku yang begitu semangat untuk memasak
pagi itu.
***
Waktu menunjukkan pukul
9 pagi, dan saatnya memulai rutinitas dikampus tercintaku.
“Aenda berangkat dulu paa..!” Teriakku sambil menutup pintu kamar dan menghampiri
papa yang saat itu tengah membaca koran di ruang makan.
“Iya, hati-hati Aend..!” Kata papa sambil mengelus rambutku saat aku
mencium tangannya.
Lalu aku bergegas berangkat karna waktu telah menunjukkan pukul 8 pagi, aku berjalan melewati kompleks
perumahan yang masih sepi dengan aktivitas. Hanya ada tukang penjual sayur
keliling yang tengah menjajakan dagangannya. Setelah sampai diujung jalan, aku
segera merapat ke halte dan menunggu taxi di tempat duduk halte. Berharap untuk
cepat mendapatkan taxi untuk segera aku tumpangi. Selang 10 menit kemudian,
Taxi pun lewat dan mengantarkanku melesat ke arah ibu kota. Sesampainya di
depan kampus aku segera berjalan menyusuri lorong-lorong kelas yang mulai ramai
dengan mahasiswa.
Tiba ruang 5.12 dengan dosen terkilernya pengantar psikologi. Aku segera
memasuki ruang kelas yang saat itu penuh riuh dan segera menghampiri Anne,
sahabat baikku. Aku duduk disebelahnya dan mulai mendiskusikan tugas observasi
yang diberikan oleh Bu Juar kepada kami.
“Silahkan membentuk kelompoknya masing-masing dan mengambil form ke saya
untuk segera melakukan observasi!” Seru ketua tingkat kami memberi intruksi.
Aku, Anne, dan teman satu lagi segera mengisi form dan beranjak
meninggalkan kelas untuk mengunjungi perkampungan kumuh dipinngiran ibu kota
sebagai tujuan observasi kami.
***
Mobil yang dikendarai
Anne pun mulai melesat jauh meninggalkan parkiran kampus. Menyisiri ibu kota
yang sudah nampak macet untuk jam aktivitas seperi sekarang. Selang beberapa
kemudian, kami pun sampai di perkampungan kumuh itu. Benar saja, dibalik
gedung-gedung pencakar langit yang mewah ditengah ibu kota, ternyata dibaliknya
miris dengan keadaan yang berbanding terbalik dengan mewahnya kota Jakarta yang
serba ada. Sempit, dan benar-benar kumuh. Sama sekali tidak terbayangka
bagaimana nasib kesehatan mereka, pendidikan, maupun ekonomi yang berada
disana. Aku masih tertegun mengamati sekeliling perkampungan kumuh itu dibalik
kaca mobil Anne.
“Aend ayo keluar!” Teriak Anne mengajakku keluar.
Kami bertiga pun segera berjalan memasuki jalan sempit perkampungan
kumuh itu. Karna mobil Anne tidak bisa memasuki jalan yang ada di perkampungan
itu, jadi terpaksa harus diparkir depan warung diujung jalan.
Belum melangkah lebih jauh, aku sudah mendapati pandangan yang cukup
membuat hati terasa pilu. Umumnya jam-jam seperti ini adalah waktu anak untuk
mendengarkan pelajaran di kelas, membawa tas dn bersepatu rapi dengan baju
seragamnya. Bukannya membawa karung dengan tumpukan sampah, bahkan tanpa alas
kaki.
Segera aku menghampiri anak tersebut dengan seribu pertanyaan yang mulai
muncul dibenakku.
“Adek,, !” Sapaku pelan sambil menghampirinya.
Tatapan dingin dan asing mulai keluar dari raut wajahnya yang masih
polos.
“Kamu gak sekolah?” Tanyaku lagi
sambil tersenyum menatapnya.
Dia hanya diam dan menatap mimik mulutku yang berbicara. “Iya sekolah,
ini kan jamnya anak sekolah! Tambahku lagi.
Aku hanya menoleh ke arah Anne dan satu temanku yang lain hanya tertegun
diam berdiri dibelakangku.
Tak lama setelah itu anak tersebut berbalik arah dan berlari kecil. Aku
bingung dengan sikapnya, apa pertanyaanku membuatnya sakit hati. Karna merasa
tidak enak hati, aku pun segera berlari menyusulnya, Anne dan satu temanku yang
lain pun menyusulku di belakang. Tak begitu lama, sampai lah aku membuntuti
anak itu. Gadis kecil itu berhenti disebuah rumah kardus yang dihalamnnya penuh
dengan botol-botol plastik sisa air mineral. Aku pun memberanikan diri untk
memasuki rumah itu, tak bermaksud lancang karna rumah itu hanya terdiri dari
satu pintu dan itupun terbuka karna tidak ada daun pintunya.
“Permisi..!” Teriakku dengan pelan.
Betapa kagetnya mata ini melihat, dalam bayanganku didalam rumah kardus
itu ada berpetak-petak ruangan. Namun salah besar, begitu aku, Anne dan satu
temanku yang lain akan memasuki rumah tersebut langkah kami terhenti seketika.
Bagaimana tidak, ternyata rumah gadis kecil itu hanya terdiri dari satu petak
ruangan yang sangat sempit, tidak ada jendela, dan udara hanya masuk lewat
pintu kecil yang terbuka itu. Pengap sekali, sedangkan didalam terlihat ada
seorang ibu dan dua anak kecil yang salah satunya adalah gadis kecil tadi.
“Maaf bu..saya..”
“Tidak apa-apa silahkan masuk!” Ibu itu memotong bicaraku dan dengan
ramah mempersilahkan kami bertiga masuk ke dalam.
“Kalian ini siapa, dan ada perlu apa datang kesini?” Tanya ibu itu
dengan suara lirih.
“Sebelumnya maaf bu, saya tadi bertemu dengan anak ibu dan saya tanya
soal!” Bicaraku terhenti seketika.
“Iya, Lui sudah cerita kepada saya!” Sahut ibu itu sembari masih
tersenyum ramah dan ternyata anak gadis kecil itu bernama Lui.
Ibu itu banyak bercerita kepada kami saat itu, dan kami pun memberitahu
bahwa kedatangan kami bertiga di kampung itu hanya untuk observasi dan tidak
bermaksud merugikan siapapun. Ibu itu pun mengerti dan bercerita tentang
hidupnya dan keluarganyam termasuk Lui anaknya. Ibu tersebut mengatakan, bahwa
dulu ia adalah orang yang berkecukupan, dan Lui pun sebenarnya pernah merasakan
bangku pendidikan di sekolah dasar hingga kelas 5 SD. Namun keadaan berubah
setelah mereka sekeluarga mengalami musibah kecelakaan, yang membuat suaminya
meninggal dunia dan Lui yang mendadak menjadi tuli. Pantas saja saat berbicara
denganku, dia hanya diam dan melihat kearah mimik bibirku.
Cerita dan musibah yang dialami Lui sama seperti apa yang aku alami
dengan papa. Hanya saja Lui saat ini ada bersama ibunya dan ditemani dengan
adiknya yang masih sekitar berumur 3 tahun. Sejak saat itulah hutang di
keluarga mereka menumpuk sehingga semua rmah dan hata bendanya habis dan disita
bank, dan harus terpaksa tinggal dalam keadaan yang sangat berbanding terbalik
dengan keadaanya dahulu. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan Lui, sangat
tertekan untuk anak seusia Lui. Aku pun mencoba berbicara dengan Lui dengan
bahasa iayarat yang ia mengerti. “Bahwa kehilangan pendengaran adalah bukan
satu-satunya oerenggut kebahagiaan kita, sesungguhnya suara ketulusan bukan
hanya didengar oleh telinga, tapi didengar melalui hati”. Beethoven pernah
tuli, tapi ketuliannya tersebut tidak mengurungkan nasibnya untuk menjadi
pemusik dunia yang hebat.
Dan Lui pun tersebyum saat aku berbicara seperti itu. Dan hari itu kami
bertiga beserta Lui dan keluarganya menghabiskan waktu bercerita hingga tak
terasa matahari pun tenggelam meninggalkan tempatnya bersinar. Kami bertiga pun
pamit pulang.
***
Setelah kepulanganku
dengan Anne dan temanku dari perkampungan kumuh itu, termasuk Lui dan
keluarganya yang memberikan pelajaran semangat dan syukur luar biasa kepadaku.
Saai itu juga setiap ada waktu aku slalu menyempatkan waktuku untuk pergi ke
perkampungan itu bersam Anne. Ya, untuk membagi ilmu yang kami punya kepada
mereka yang tidak bisa merasakan bangku pendidikan. Dan niat kami pun disambut
baik oleh warga setempat, tak lupa kami pun berpesan kepada orang tua mereka
untuk slalu mendukung niat anak-anaknya yang ingin merasakan pendidikn dengan
bimbingan terbuka yang kami berikan. Agar anak-anak mereka tidak diforsif
dengan pekerjaan yang sebenarnya sangat menghabiskan waktu bermain dan belajar
untuk anak-anak seusia Lui. Berkat Lui aku tidak pernah lagi merasa tidak
sempurna, karna ternyata kesempurnaan itu adalah kita yang bisa membuat diri
kita berarti lebih dari siapa pun. Dengan keterbatasan yang Lui miliki, Lui
ternyata jauh lebuh tegar, tak pernah nerasa putus asa meskipun sebenranya ia
lelah. Lui membuatku akhirnya tidak membenci sebuah kesunyian. Dan papa telah
memberinya Hearing Aid saat aku
mengajaknya ke rumah Lui. Sehingga Lui pun bisa mendengar suara-suara kehidupan
lagi.
Author by : Nana Owobiw










