
Oleh: Hasan Husen Assagaf
AURAT adalah bagian tubuh yang wajib ditutup dan haram melihatnya.
Dalam hukum fiqih aurat laki laki antara pusar dan lutut, sedang aurat
perempuan, karena sangat sensitive, seluruh tubuhnya kecuali muka dan
tapak tangan. Menutup aurat adalah cabang dari iman. Yang tidak
menutupnya berarti tidak ada iman, yang tidak punya iman berarti tidak
punya malu. Jelasnya, malu termasuk cabang dari iman. Iman amat
berkaitan dengan malu. “Bila malu hilang hilanglah iman, jika iman
hilang malupun ikut terbang”. Itu yang kita dapatkan dari hadith
Rasulallah saw.
Saat Nabi Adam as dan istrinya Hawa turun ke bumi, keduanya dalam
kondisi tak sehelai benangpun di tubuh mereka. Menyadari hal itu Adam as
dan Hawa segera mencari dedaunan dan kulit pohon untuk dijadikan
pakaian yang menutupi aurat mereka. Padahal pada saat itu tidak ada
seorang pun yang melihat, kecuali mereka berdua, suami istri. Tapi
mereka berusaha menutupi aurat mereka masing masing karena rasa malu
mereka yang sangat tinggi.
Ada cerita tentang Balqis, ratu negri Saba-Yaman ketika berkunjung ke
istana nabi Sulaiman. Ia tercengang melihat kemewahan dan keindahan
istana. Saking kagumnya Ratu Balqis menarik abayanya (rok panjangnya)
karena ia mengira lantai istana digenangi air. Padahal itu semua karena
kecanggihan istana Sulaiman as. Roknya sempat terangkat dan betisnya pun
sempat terlihat. Walaupun kejadian itu hanya sekejap tapi cukup membuat
ratu Balqis malu besar, mukanya merah padam dan segra menutup betisnya.
Diriwayatan pernah siti Aisyah ra bertanya kepada Rasulallah saw
“wahai Rasulallah, betulkan nanti di hari kiamat para perempuan
dikumpulkan bersama lelaki kesemuanya dalam keadaan tanpa busana?”
Rasulallah pun menjawab “Betul”. Mendengar yang demikian Aisyah ra
menangis sejadi jadinya dan berkata “Alangkah malunya, alangkah malunya
ya Rasulallah” Namun beliau kemudian menjelaskan: “wahai Aisyah, di
akhirat nanti manusia sibuk dengan dirinya masing masing sehingga tidak
ada waktu dan kesempatan untuk memperhatikan aurat orang lain”. Hadisth
ini dimuat sebagai gambaran seorang wanita yang kuat imannya dan
memiliki rasa malu yang dalam.
Cerita tentang aurat tentu kita bertanya kenapa Rasulallah saw lahir
dalam keadaan sudah berkhitan? Kalau kita sering membaca kitab maulid
tentu kita akan mendapatkan jawabannya. Rasulallah lahir dalam keadaan
berkhitan agar tidak ada yang melihat auratnya dari pandangan orang
lain. Dan itu merupakan sebagian dari kemuliaan Allah yang diberikan
kepada beliau. Jelasnya beliau terpelihara dan terjaga dari keburukan,
kejelekan, dosa dan kemaksiatan.
Satu kali, ketika Rasulallah saw masih kecil ikut memperbaiki Ka’bah
bersama sama orang Quraisy Makah. Beliau pun ikut gotong royong membatu
mengangkat sebuah batu yang cukup besar dan berat sehingga qamis beliau
tersingkap. Tiba tiba batu itu jatuh dan mengenai kakinya sampai beliau
pingsan. Dengan jatuhnya batu maka qamis beliau kembali menutup aurat
beliau yang tersingkat.
Dulu derajat malu khususnya dikalangan wanita sangat tinggi. Sangat
jarang kita dapatkan wanita keluar rumah. Kalau keluar, auratnya selalu
ditutup rapat-rapat dan selalu disertai mahram untuk menjaganya. Orang
tua atau suami sangat cemburu bila aurat anaknya atau istrinya dilihat
orang lain.
Dulu orang selalu menjaga kadar iman dan menempatkan kaum wanita pada
posisinya sesuai dengan syariat yang diajarkan agama. Makanya mereka
selalu menjaga keturunan mereka dan memelihara auratnya serapi mungkin
sejak kecil. Mereka berikan pakaian yang sesuai dengan standar syariat,
tidak diobral semaunya, apalagi dipamerkan di halayak ramai. Karena
aurat wanita secara otomatis berbeda dengan pria amat berharga dan
sensitive mengundang orang berbuat dosa.
Berbeda dengan zaman sekarang aurat, maksiat, kerusakan sudah menjadi
lumrah dan sulit dibendung. Benar apa yang dikatakan Ahmad Syauqi
“kukuhnya satu bangsa terletak pada moralnya. Apabila moralnya rusak,
maka bangsa tersebut ikut bejat” Adapun salah satu penyeban kehancuran
moral dan akhlak karena pengaruh pornografi. jadi sangat wajar sekali
jika dilakukan pelarangan terhadap majalah Play Boy dan majalah majalah
lainnya di Indonesia yang masih menyajikan hal hal yang berbau porno.
Sebetulnya, kalo mau, pemerintah sendiri cukup untuk menyetop dan
melarang penerbitan majalah Play Boy, tapi kok engga bisa? Ini
pertanyaan yang harus dijawab oleh diri kita masing masing. Saya yakin
anda, saya, dan siapa saja tahu jawabannya.
Sudah barang tentu ada beberapa cara yang digunakan untuk
menyelamatkan moral dan akhlak bangsa sesuai dengan yang dianjurkan
Rasulallah saw. Pertama mereka yang mampu berda’wah dengan kekuatan.
Yaitu orang yang bisa merobah dengan tangannya jika melihat kemungkaran
dan kemaksiatan. Kedua mereka yang mampu berda’wah dengan lisannya.
Sedang yang paling lemah ialah yang hanya mampu menjahui dan membenci di
dalam hati tanpa berbuat apa apa.
Memang ada hadits yang mengatakan “katakanlah yang hak (benar)
walaupun yang benar itu pahit”. Hadist ini jelas menyuruh meluruskan,
memperbaiki atau tegasnya merobah apa apa yang dilihat salah, tapi bukan
dengan kekerasan, bukan dengan emosi, bukan dengan caci maki. Hati
seorang muslim itu bukan batu, ia tidak sekeras batu. Batu saja masih
lunak jika terus menerus ditetesi air.
Jadi, cara menyampaikan yang haq (benar) pun harus bijaksana dan
dengan menggunakan bahasa yang sopan, lembut dan menyentuh. Satu kali
Khalifah Makmun putra Harun Al-Rasyid dikeritik,dikecam dengan pedas dan
disertai caci maki oleh sekelompok orang. Beliau sangat marah dan
menyuruh orang yang mengeritiknya membuka al-Quran surat Taha ayat
43-44, dimana Allah menyuruh kepada nabi Musa dan Harun as untuk
mendatangi Firaun dan berbicara kepadanya dengan kata kata yang lembut
(qaulan layyinan). Makmun putra Harun Al-Rasyid menegaskan bahwa dirinya
adalah seorang muslim masih jauh lebih baik dibandingkan dengan Firaun
yang musyrik bahkan mengaku Tuhan.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar